--> Ibu Muda Ini Malah Menari di Tengah Banjir Saat Pasang Laut di Desanya | suluh sumatera

Ibu Muda Ini Malah Menari di Tengah Banjir Saat Pasang Laut di Desanya

Bagikan:

Mentari sadar jika sejak kecil pun ia sudah akrab dengan rob. Tapi tak pernah sebesar ini.

Mentari Isnaini (27) saat mengelar pertunjukan tarian rob di rumahnya Desa Purwosari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Jawa Tengah beberapa waktu lalu. (dokumentasi Mentari Isnaini)
suluhsumatera - Bukan lagi sebuah hal yang mengherankan bagi warga Demak Jawa Tengah saat pemukiman penduduk di wilayah pesisir kembali dilanda banjir pasang laut atau rob yang besar.

Perubahan garis pantai secara signifikan sudah terpantau hingga mencapai 5 kilometer ke daratan.

Dampaknya, sebuah desa sudah tenggelam dan puluhan lainnya terancam mengalami nasib serupa.

Tanda-tandanya adalah adanya gelombang pasang yang secara rutin menyambangi pemukiman penduduk di pesisir wilayah Kecamatan Sayung, hingga Wedung, Kabupaten Demak Jawa Tengah.

Sudah tak terhitung lagi upaya yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat untuk menanggulangi fenomena alam yang merugikan hidup warga.

Mulai dari pengurasan dengan pompa, rencana pembangunan tanggul laut, relokasi warga maupun penimbunan tanah supaya permukaan lantai rumah menjadi kering semua sudah dilakukan.

Tetapi tampaknya sia-sia, sebab makin hari rob yang datang saat saat tertentu makin besar dan arusnya makin deras.

Di tengah berbagai wacana penanggulangan rob Demak, masyarakat dibuat terpana ketika seorang seniman asal Desa Purwosari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak Jawa Tengah menggelar pertunjukan tari kontemporer di tengah banjir rob yang melanda kampungnya.

Seperti yang dilaporkan kompas.com, Mentari Isnaini, (27) mahasiswi S2 seni tari di sebuah perguruan tinggi di Jawa Tengah ini menyatakan keprihatinan dan membuat rekam jejak atas bencana rob dengan caranya sendiri.

Kostum dan make up minimalis terasa pas ketika perempuan kelahiran Demak, 6 Maret 1993 ini melenggak lenggok di dalam genangan air berlumpur setinggi lututnya.

Sesekali ia hentakkan sampur merah dengan tubuh kuyup terendam air laut yang betah menggenang di sekitar rumahnya.

Tubuh dan jiwanya bergerak seirama. Berteriak dalam diam. Melengkingkan permohonan pada sang pencipta. Melolongkan pertanyaan 'kenapa' dan 'bagaimana' bisa terjadi bencana dalam hidup mereka.

Mentari memberi judul tari itu dengan ' Rob Sayung 13 Mei'.

Tepat di hari itu, saat orang sedang khusyu menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, rob datang dengan ketinggian dan arus deras yang lebih dari sebelumnya.

Air menggenang di dalam rumah mereka setinggi 1 meter. Perabot terendam dan banyak yang rusak. Selama hampir 1 bulan, tidur mereka tak tenang karena semua permukaan rumah dipenuhi air keruh dan berbau amis dan busuk.

"Saya hanya ingin bertanya, kita diperintahkan untuk stay at home. Sedangkan rumah terendam rob. Bagaimana ini? " ucap Mentari saat diwawancarai Kompas.com, Minggu (7/6/2020).

Mentari sadar jika sejak kecil pun ia sudah akrab dengan rob. Tapi tak pernah sebesar ini. Dan perempuan beranak satu ini juga sadar bahwa ada hal lain yang bisa dilakukannya untuk menyikapi bencana rob.

Tanpa harus demonstrasi maupun audiensi terhadap pemerintah.

Dengan dukungan penuh dari suaminya yang seorang seniman lukis, ibu muda itu tahu harus menginspirasi masyarakat dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.

Selain menghujat dan meminta bantuan materi, ada hal positif yang bisa dilakukan masyarakat di tengah bencana rob dan pandemi Covid-19.

Mentari tak menyalahkan siapapun. di benaknya hanya ada sebuah doa dan harapan yang dipresentasikan dalam tari kontemporer di tengah banjir rob.

"Kelak akan datang dimana kami dapat kembali menghirup udara di bawah pepohonan rindang dan mencium aroma hijau persawahan, " harapnya. 

KOMENTAR