--> Viral Video 4 Siswi Seram Maluku Nyaris Terseret Arus Sungai Saat Berangkat Sekolah | suluh sumatera

Viral Video 4 Siswi Seram Maluku Nyaris Terseret Arus Sungai Saat Berangkat Sekolah

Bagikan:

Dalam video tersebut, para siswi terpaksa menyeberang sungai karena tak ada akses jalan atau jembatan yang bisa digunakan.

Sejumlah siswi SMP Negeri 16 Seram Bagian Timur, Maluku harus menyeberangi derasnya sungai 
suluhsumatera - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Seram Bagian Timur, Maluku, angkat bicara soal video viral empat siswi yang nyaris hanyut saat menyeberangi Sungai Ulil di Desa Tobo, Pulau Seram, Kamis (16/7/2020).

Dalam video tersebut, para siswi terpaksa menyeberang sungai karena tak ada akses jalan atau jembatan yang bisa digunakan.

Mereka pun terpaksa menantang bahaya saat berangkat sekolah yang ada di Desa Batuasa.

Menurut Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidik Rumaloak, lokasi mendesak untuk dibangun akses jalan atau jembatan.

Namun, pihaknya mengaku tak bisa berbuat banyak karena bukan tanggung jawab mereka.

"Yang jelas kami mendorong agar masalah ini bisa dapat segera diselesaikan," kata Sidik seperti yang dilansir Kompas.com.

Dalam video yang beredar, tampak empat siswi bersusah payah menyeberangi aliran sungai yang deras.

Dengan mengenakan seragam lengkap, satu per satu siswi tersebut menyeberang.

Siswi yang berhasil menyeberang lalu meletakkan tasnya di tempat aman, dan kembali membantu tiga teman lainnya.

Saat itu, tampak salah satu siswa sempat terjatuh dan nyaris terseret arus.

Beruntung, ia masih bisa berdiri dan menyeberang. Video berdurasi 53 detik itu diunggah akun Facebook Lissa Tanamal di Facebook.

Dalam keterangannya, Lisa menulis, siswa tersebut telah menunggu selama tiga jam agar bisa menyeberang.

Setiap hari menyeberangi sungai

Setelah viral, keempat siswi tersebut diketahui bersekolah di SMPN 16 Seram Timur.

Menurut salah satu guru, Werto Wailissahalong, empat siswi itu adalah murid-murinya.

Mereka, menurut Werto, setiap hari harus menyeberang sungai tersebut.

“Itu para siswa setiap hari berjalan kaki menyusuri pantai yang bergelombang tiga kilometer sebelum menyeberangi sungai itu,” katanya, Jumat (17/7/2020).

Menurut Werto, siswa di wilayah itu telah mulai bersekolah seperti biasa sejak 13 Juli 2020.

KOMENTAR