Bagaimana Manusia Tahu Luar Angkasa Bisa Dikunjungi? Ini Sejarahnya
SEJAK kecil, hampir semua orang pernah menatap langit malam dan bertanya-tanya: apa yang sebenarnya ada di sana? Bintang-bintang tampak jauh, sunyi, dan mustahil disentuh. Selama ribuan tahun, langit dianggap sebagai wilayah para dewa atau sekadar misteri yang tak terjangkau.
Namun suatu hari, manusia mulai menyadari sesuatu yang besar: luar angkasa mungkin bisa dikunjungi.
Kesadaran itu tidak datang sekaligus. Ia tumbuh perlahan melalui pemikiran dan keberanian. Pada akhir abad ke-19, seorang ilmuwan Rusia bernama Konstantin Tsiolkovsky menghitung secara matematis bahwa roket, jika dirancang dengan benar, dapat lepas dari gravitasi Bumi. Di masanya, gagasan ini terdengar seperti fiksi. Tetapi melalui rumus dan logika, ia membuktikan bahwa perjalanan ke luar angkasa bukan hal mustahil.
Beberapa dekade kemudian, ilmuwan Amerika Robert H. Goddard mulai mewujudkan teori itu menjadi kenyataan. Ia meluncurkan roket berbahan bakar cair pertama di dunia. Banyak orang menertawakannya saat itu, bahkan media menyebut idenya terlalu liar. Namun sejarah kemudian mencatat, eksperimennya menjadi fondasi teknologi roket modern.
Perlombaan menuju langit semakin cepat ketika dunia memasuki era Perang Dingin. Dua negara adidaya berlomba membuktikan siapa yang paling unggul dalam teknologi luar angkasa. Hingga akhirnya, pada 12 April 1961, seorang kosmonot Uni Soviet bernama Yuri Gagarin mencatat sejarah sebagai manusia pertama yang mengorbit Bumi.
Kalimatnya sederhana, tetapi mengguncang dunia: “Saya melihat Bumi. Betapa indahnya.”
Sejak hari itu, langit tidak lagi sama. Luar angkasa bukan lagi sekadar cerita dongeng atau imajinasi ilmiah. Ia menjadi wilayah yang bisa dicapai manusia.
Namun jika ditarik lebih jauh, benih kesadaran itu sebenarnya sudah muncul sejak abad ke-17, ketika Galileo Galilei mengarahkan teleskopnya ke langit dan menemukan bahwa alam semesta jauh lebih luas dari yang dibayangkan manusia kala itu.
Jadi, siapa orang pertama yang tahu luar angkasa bisa dikunjungi? Jawabannya bukan satu nama. Itu adalah perjalanan panjang gagasan, eksperimen, dan keberanian lintas generasi.
Hari ini, ketika manusia kembali berbicara tentang misi ke Mars dan kehidupan di luar Bumi, pertanyaan lama itu terasa semakin relevan. Dulu kita bertanya apakah langit bisa disentuh. Sekarang kita bertanya, seberapa jauh kita akan melangkah.
Dan mungkin, seperti dahulu, langkah besar berikutnya dimulai dari satu hal sederhana, rasa ingin tahu.
Berbagai Sumber


Comments