Harga TBS Kelapa Sawit Melambung, Petani Hadapi Trek Parah
KOTAPINANG
suluhsumatera : Sudah lebih dari satu bulan terakhir harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit khususnya di Kab. Labusel lebih dari Rp3 ribu/Kg.
Sayangnya, harga yang melambung tinggi itu tidak serta-merta dapat dinikmati masyarakat, karena disaat bersamaan produksi TBS kelapa sawit justru mengalami penurunan drastis (trek).
Tidak tanggung-tanggung, penurunan hasil panen di kebun milik petani rata-rata mencapai 50 persen, bahkan hingga 70 persen.
"Luas lahan saya itu sekitar 5 hektare, saat normal biasanya hasil panen mencapai 4 ton dalam 14 hari, tapi sekarang hanya 1,2 ton," ungkap Rahmat, 61 petani sawit di Kel. Kotapinang, Kec. Kotapinang, Minggu (11/4/2026).
Selain faktor iklim dan pola pemupukan, kata dia, penurunan produksi juga diperparah dengan kerusakan tanaman akibat maraknya pencurian TBS kelapa sawit di kebun.
Menurutnya, kerap kali para pencuri memanen buah kelapa sawit saat kondisinya masih belum layak, sehingga mengganggu siklus tanaman.
"Sekarang ini buah belum masak pun dicuri untuk dijadikan brondolan. Tanaman stres, jadinya seperti ini. Biasanya saat musim trek penurunannya hanya 20 persen, sekarang sudah mencapai 70 persen, padahal pemupukan cukup baik," paparnya.
Ariandi, 47 petani sawit di Desa Sisumut, Kec. Kotapinang menyebutkan, musim trek sudah dirasakan petani sejak Januari lalu.
Setiap panen kata dia, hasil produksi terus menurun, sehingga petani cukup kesulitan untuk melakukan pemeliharaan tanaman dan kebun, apa lagi saat ini harga pupuk dan pestisida juga ikut mahal.
"Sekarang ini hasil panen saya turun 50 persen lebih. Biasanya setiap putaran rata-rata 3 ton hingga 3,3 ton, sekarang hanya 1,2 ton, kekmana mau mupuk dan membersihkan kebun," ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Departemen PSR DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut, Agus Dharmawan, SP mengatakan, pemerintah dan aparat penegak hukum harus memberikan perhatian serius terhadap petani kelapa sawit swadaya maupun plasma di Kab. Labusel.
Sebab sebut dia, kelapa sawit merupakan komoditas unggulan, khususnya di Kab. Labusel yang perlu dikembangkan intensif.
"Bertahun-tahun ini petani kelapa sawit di Kab. Labusel sangat kesulitan untuk mempertahankan apa lagi meningkatkan produksi, karena pupuk konvensional sangat mahal. Ditambah lagi aksi pencurian TBS kelapa sawit justru tambah parah, yang kini juga menyasar buah mentah," katanya.
Dia menyebut, setiap tahun petani harus mengalami penurunan produksi akibat pemupukan yang tidak sesuai karena mahalnya pupuk, sehingga sangat merugikan.
Kondisi itu kata dia, semakin mempersulit petani ketika musim produksi anjlok (trek) tiba, akibat faktor iklim.
"Seperti musim trek yang terjadi tiga bulan terakhir, petani harus kehilangan 50 hingga 70 persen produksi. Ini sangat mempersulit petani dalam memenuhi kebutuhan hidup, walau harga saat ini cukup baik," timpalnya.
Agus berharap, Peraturan Menteri (Permen) Pertanian terkait pupuk subsidi dapat dievaluasi untuk memberikan rasa keadilan bagi masyarakat petani kelapa sawit di daerah.
"Penghapusan komoditas kelapa sawit dalam peraturan menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2022 cukup memberatkan petani sawit swadaya. Terutama bagi petani dengan luas lahan di bawah 1-3 hektare," pungkasnya.
(*/sya)


Comments