KTNA Serukan Mitigasi Kekeringan: Optimalisasi Pompa Air, Varietas Tahan Kering, dan Perkuat Sinerji
JAKARTA
suluhsumatera : Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), H. M. Yadi Sofyan Noor menyerukan langkah mitigasi cepat kepada seluruh jajaran KTNA di tingkat provinsi, kabupaten/kota dan para penyuluh pertanian untuk menghadapi potensi kekeringan yang diprediksi BMKG terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional, khususnya beras, sekaligus mendukung program swasembada berkelanjutan yang terus digencarkan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.
Sofyan menegaskan pentingnya memaksimalkan berbagai program pemerintah, termasuk memanfaatkan sekitar 70.000 unit pompa air yang disalurkan dari tahun 2024 yang diperuntukkan bagi daerah rawan kekeringan.
Ia mengimbau seluruh daerah segera memetakan dan mendata seluruh pompa yang tersebar di Brigade Alsintan, jajaran TNI (Korem/Kodim), dinas pertanian daerah, hingga kelompok tani penerima bantuan.
Pendataan ini menjadi dasar penggerakan pompa ketika debit air menurun pada puncak musim kemarau.
Lebih lanjut, lokasi pompa diminta untuk di-overlay dengan sumber air permukaan seperti sungai kecil, parit irigasi, alur air dangkal, dan sumur sekitar lahan sawah tadah hujan.
Overlay sama dengan penyelarasan atau pemetaan tumpang susun antara posisi pompa dan sumber air. Tujuannya agar air permukaan dapat dimanfaatkan optimal sebelum terbuang ke laut. Upaya ini diprioritaskan pada lahan sawah berindeks pertanaman satu (IP100), yang sangat bergantung pada curah hujan.
Dalam aspek budidaya, KTNA mengimbau petani mulai memilih varietas padi tahan kekeringan, seperti Inpago (padi gogo), varietas amfibi, serta varietas adaptif lainnya yang tetap mampu tumbuh di kondisi air terbatas.
Sofyan menegaskan, pemilihan varietas yang tepat merupakan faktor kunci menjaga produktivitas di masa kemarau.
Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan irigasi berselang (intermittent irrigation), yaitu metode pemberian air secara berkala dengan kedalaman genangan sekitar 5 cm setiap satu minggu.
Intermittent-sistem irigasi berselang-tidak terus-menerus. Metode ini terbukti lebih efisien dan tetap aman bagi pertumbuhan padi yang sebenarnya tidak membutuhkan rendaman permanen.
KTNA menyambut baik percepatan modernisasi pertanian melalui pemanfaatan Alsintan (alat dan mesin pertanian) seperti traktor roda dua, rice transplanter, drone pertanian, dan combine harvester (mesin panen terpadu).
Mekanisasi penuh membuat proses pengolahan tanah, tanam, hingga panen berlangsung lebih cepat dan lebih adaptif terhadap perubahan cuaca.
Sofyan turut menyinggung pengalaman menghadapi El Nino 2023–2024, ketika pemerintah melakukan refocusing anggaran untuk pengadaan pompa air. Langkah ini terbukti menyelamatkan sebagian besar sawah tadah hujan—sekitar 2,7 juta hektare dari total 7,38 juta hektare lahan baku sawah nasional.
“Kami optimistis, apabila mitigasi dilakukan sedini mungkin dan secara terkoordinasi, produksi padi nasional akan tetap terjaga. Bahkan, kita memiliki peluang meningkatkan produksi dan kembali mengekspor beras pada tahun mendatang,” terang Sofyan.
KTNA mengajak seluruh pemangku kepentingan pertanian untuk segera menggerakkan langkah mitigasi sebagai upaya bersama menjaga ketahanan pangan nasional menghadapi musim kemarau.
Ia juga menyampaikan bahwa petani semakin semangat berproduksi karena mendapatkan dukungan penuh dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang secara rutin turun ke lapangan.
Belum lama ini, Sofyan berdiskusi dengan Ali Jamil Harahap, Plt. Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Kementan, bahwa atas instruksi langsung Mentan Amran untuk mengidentifikasi persoalan lapangan dan segera memberikan solusi cepat dalam rangka mitigasi kekeringan. Sehingga swasembada berkelanjutan bisa tercapai
Mengutip arahan Mentan Amran, Ali Jamil menegaskan, jangan biarkan air mengalir ke laut sebelum menghasilkan karbohidrat dan protein.
"Optimalkan seluruh sarana dan prasarana agar produksi beras kita lebih tinggi dari tahun 2025."
(hrp)


Comments