Debu Proyek SR di Padangsidimpuan Cemari Lingkungan Sekolah, Siswa, dan Guru Ikut Terdampak
PADANGSIDIMPUAN
suluhsumatera : Aktivitas proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kelurahan Padangmatinggi, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, kembali menuai sorotan.
Kali ini, pihak SD Swasta Darun Najah secara resmi melayangkan surat protes kepada PT. NK selaku pelaksana proyek akibat kondisi jalan yang dipenuhi debu dan lumpur hingga mengganggu lingkungan sekolah.
Sekolah yang berada tepat di depan akses keluar masuk kendaraan proyek menjadi salah satu lokasi paling terdampak.
Lalu lalang truk pengangkut material setiap hari menyebabkan debu beterbangan saat cuaca panas, sementara ketika hujan turun, jalan berubah menjadi berlumpur yang menyulitkan aktivitas warga sekolah.
Pihak yayasan menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan belajar mengajar, tetapi juga mengancam kesehatan siswa dan tenaga pengajar.
Yayasan Sebut Surat Protes Sudah Dilayangkan Sebulan Lalu
Ketua Yayasan Disafa, Puja, mengungkapkan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah menyampaikan keberatan secara resmi sejak sekitar satu bulan lalu.
Namun hingga kini, menurutnya, belum ada langkah konkret dari pihak perusahaan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
"Kami sudah melayangkan surat protes dan meminta pihak Nindya Karya bertanggung jawab atas dampak yang terjadi. Karena proses belajar mengajar sudah sangat terganggu,” ujarnya.
Ia mengatakan, setiap hari siswa harus belajar dalam kondisi lingkungan yang dipenuhi debu.
Bahkan debu kerap masuk hingga ke ruang kelas ketika kendaraan proyek melintas.
Menurutnya, situasi itu sangat mengkhawatirkan karena mayoritas siswa masih berusia anak-anak dan rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan debu secara terus menerus.
Debu dan Lumpur Ganggu Aktivitas Belajar Mengajar
Selain mengganggu konsentrasi belajar, dampak proyek juga dirasakan pada fasilitas sekolah.
Area parkir yang biasa digunakan guru dan kendaraan antar jemput siswa kini berubah menjadi area berlumpur saat hujan dan dipenuhi debu ketika cuaca panas.
“Parkiran guru dan tempat antar jemput anak sekolah sekarang sudah tidak nyaman lagi digunakan. Kalau hujan jadi becek dan berlumpur, kalau panas debunya tebal,” beber Puja.
Kondisi tersebut membuat para orang tua siswa merasa resah saat mengantar anak mereka ke sekolah.
Tidak sedikit yang khawatir terhadap dampak debu terhadap kesehatan anak-anak.
Sekolah Nilai Perusahaan Kurang Peduli Terhadap Dampak Lingkungan
Puja menilai langkah yang dilakukan pihak perusahaan sejauh ini masih sangat minim.
Menurutnya, penyiraman jalan yang dilakukan sesekali tidak cukup untuk mengatasi persoalan debu yang setiap hari dirasakan masyarakat sekitar.
“Sampai sekarang hanya sebatas menyiram jalan. Tidak ada bentuk tanggung jawab lain, seperti pemberian masker kepada siswa atau langkah penanganan yang lebih serius,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti sikap pihak pelaksana proyek yang dinilai kurang responsif terhadap keluhan masyarakat terdampak.
“Jangan karena ini program presiden lalu pihak pelaksana merasa masyarakat harus diam. Ini menyangkut kesehatan anak-anak dan kenyamanan sekolah,” katanya dengan nada kecewa.
Pemprovsu, Pemko, dan DPRD Diminta Segera Turun Tangan
Pihak yayasan berharap Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota Padangsidimpuan bersama DPRD segera turun tangan mencari solusi agar aktivitas proyek tidak terus merugikan masyarakat sekitar.
Mereka meminta agar pelaksanaan proyek tetap memperhatikan dampak lingkungan, terutama terhadap sekolah-sekolah yang berada di sekitar lokasi pembangunan.
Diketahui, selain SD Swasta Darun Najah, di kawasan sekitar proyek juga terdapat SMA Negeri 3 dan SMP Negeri 5 Kota Padangsidimpuan yang turut terdampak debu dan lumpur akibat aktivitas kendaraan proyek setiap hari.
(Baginda Ali Siregar)

Comments