Rabar, Camilan Tradisi Lokal di Tabagsel yang Kini Mulai Hilang
PADANGSIDIMPUAN
suluhsumatera : Ditengah maraknya makanan modern dan jajanan instan, keberadaan cemilan tradisional khas Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) perlahan mulai terlupakan.
Salah satunya adalah “Rabar”, makanan khas yang dulu sangat akrab di kalangan masyarakat, terutama para emak-emak di kampung-kampung.
Camilan tradisional ini dahulu kerap dibuat sebagai makanan rumahan yang sederhana, namun memiliki cita rasa khas perpaduan asam, pedas, manis dan gurih yang membuat penikmatnya ketagihan.
Racikan Tradisional dengan Cita Rasa Khas
Rabar diketahui terbuat dari berbagai bahan alami seperti nangka muda, pisang kepok muda, balakka, buah cermai, gula merah, sedikit garam, serta cabai.
Semua bahan tersebut kemudian ditumbuk secara bersamaan menggunakan lesung kayu tradisional, meski ada juga yang mengolahnya dengan cara diulak hingga halus dan menyatu.
Perpaduan rasa dari bahan-bahan alami itu menciptakan sensasi unik yang sulit ditemukan pada makanan modern saat ini.
Tidak heran jika dahulu Rabar menjadi camilan favorit masyarakat Tabagsel.
Makanan Favorit Ibu Hamil
Selain dikenal sebagai camilan tradisional, Rabar juga identik dengan makanan kesukaan para ibu hamil muda.
Rasa asam segar yang berpadu dengan pedas dan manis membuat makanan ini sangat digemari.
Bahkan di masa lalu, hampir setiap kampung di wilayah Tabagsel memiliki warga yang pandai membuat Rabar untuk dikonsumsi keluarga maupun tetangga sekitar.
Kini, kebiasaan tersebut perlahan mulai hilang seiring perubahan pola hidup masyarakat.
Generasi Muda Mulai Tak Mengenal Rabar
Saat ini, keberadaan Rabar sudah sangat jarang ditemui. Tidak sedikit generasi muda yang bahkan belum pernah mendengar nama camilan tradisional tersebut.
Masuknya berbagai jenis makanan modern serta minimnya pelestarian kuliner lokal menjadi salah satu penyebab Rabar mulai dilupakan.
Padahal, makanan tradisional seperti ini merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Tabagsel yang diwariskan secara turun-temurun.
Bahan Baku Semakin Sulit Ditemukan
Selain faktor perubahan zaman, mulai langkanya bahan baku juga menjadi penyebab utama Rabar semakin sulit dibuat.
Buah-buahan seperti balakka, cermai, hingga tanaman pendukung lainnya kini tidak lagi mudah ditemukan seperti dahulu.
Alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman serta berkurangnya area perkebunan rakyat disebut ikut mempengaruhi kondisi tersebut.
Masyarakat pun berharap kuliner tradisional seperti Rabar dapat kembali dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.
(Baginda Ali Siregar)

Comments