Asap TPA Batu Bola Jadi Sorotan, PSLH UGN Tawarkan Solusi Ekonomi Sirkular
PADANGSIDIMPUAN
suluhsumatera : Kepulan asap putih keabu-abuan kembali menyelimuti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batu Bola, Kota Padangsidimpuan. Asap yang berasal dari tumpukan sampah itu terus bergerak mengikuti arah angin, menutupi sebagian kawasan TPA hingga menyebar ke lingkungan sekitar.
Di balik kepulan asap tersebut, puluhan warga tetap bertahan mencari nafkah dengan memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Mereka dikenal masyarakat sebagai tukang botot, para pekerja sektor informal yang setiap hari mengumpulkan plastik, logam, karton, dan berbagai material daur ulang untuk dijual kembali.
Kunjungan lapangan Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Graha Nusantara (UGN) Padangsidimpuan yang dilakukan Syafiruddin, Siti Meutia Sari, dan Alwendi pada 19 Agustus 2026 menemukan sedikitnya dua persoalan mendesak di TPA Batu Bola, yakni praktik pembakaran sampah yang memicu pencemaran udara serta belum optimalnya pemanfaatan plastik bernilai ekonomi rendah.
Asap Pembakaran Sampah Harus Segera Dihentikan
Berdasarkan keterangan sejumlah tukang botot, pembakaran sampah kerap dilakukan oleh sebagian orang untuk mempermudah memperoleh logam seperti besi, aluminium, dan tembaga dari tumpukan sampah.
Ironisnya, para tukang botot sendiri menyadari bahwa pembakaran sampah justru membawa dampak buruk bagi mereka. Asap tebal mengganggu aktivitas kerja, mencemari udara, hingga mengurangi jarak pandang di sekitar lokasi.
Saat tim PSLH UGN melakukan kunjungan, beberapa titik tumpukan sampah masih mengeluarkan asap dengan material yang tampak menghitam akibat terbakar.
Para pekerja juga mengaku pernah mengetahui adanya kecelakaan lalu lintas yang diduga berkaitan dengan menurunnya jarak pandang akibat asap, termasuk tabrakan antara mobil penumpang dan sepeda motor.
Meski informasi tersebut masih memerlukan verifikasi dari pihak kepolisian maupun instansi terkait, kesaksian masyarakat dinilai cukup menjadi peringatan bahwa persoalan asap tidak boleh dianggap sepele.
"Ketika plastik ikut terbakar dalam kondisi yang tidak terkendali, persoalannya menjadi semakin serius. Karena itu, tindakan pertama yang diperlukan di Batu Bola sebenarnya sederhana tetapi mendesak, yakni menghentikan pembakaran terbuka," ujar Syafiruddin.
Menurutnya, Pemerintah Kota Padangsidimpuan melalui instansi terkait perlu melakukan pengawasan rutin terhadap titik-titik api, mempercepat upaya pemadaman, serta menegakkan larangan pembakaran sampah secara konsisten.
Namun demikian, pendekatan represif saja dinilai tidak cukup. Pemerintah juga perlu menghadirkan solusi ekonomi yang memungkinkan masyarakat memperoleh logam bernilai tanpa harus membakar tumpukan sampah.
Tukang Botot, Garda Terdepan Ekonomi Sirkular
Di tengah keterbatasan fasilitas, para tukang botot sebenarnya telah menerapkan konsep ekonomi sirkular jauh sebelum istilah tersebut populer.
Mereka memilah karton, besi, aluminium, botol plastik, plastik PE, hingga berbagai jenis wadah plastik lainnya berdasarkan nilai jual. Material tersebut kemudian dibersihkan sebelum dijual kepada pengepul.
Hasil wawancara PSLH UGN menunjukkan plastik yang telah dipilah dan dibersihkan dapat dijual sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat sekitar TPA telah memiliki pengetahuan praktis mengenai pemilahan sampah dan nilai ekonominya. Mereka memahami jenis plastik yang laku di pasaran, mengetahui proses pembersihan, hingga mengenal jaringan pengepul.
Ketika Plastik Kresek Kehilangan Nilai Ekonomi
Permasalahan muncul ketika material tertentu kehilangan nilai jual.
Salah satu contohnya adalah plastik kresek. Menurut para tukang botot, sebelumnya masih terdapat penampung yang membeli plastik tersebut sekitar Rp700 per kilogram. Namun setelah pembeli tidak lagi datang, plastik kresek praktis tidak memiliki nilai ekonomi.
Akibatnya, botol plastik, logam, dan material bernilai lainnya tetap dipungut, sedangkan plastik kresek dibiarkan menumpuk menjadi residu.
Seiring waktu, plastik bernilai rendah itu semakin mendominasi tumpukan sampah. Ketika terjadi pembakaran untuk mencari logam, plastik-plastik tersebut ikut terbakar dan menjadi sumber utama asap.
PSLH UGN menilai persoalan ini menunjukkan eratnya hubungan antara ekonomi dan pencemaran lingkungan.
Selama suatu material memiliki nilai jual, masyarakat akan menyelamatkannya dari timbunan sampah. Namun ketika nilai ekonominya hilang, material tersebut berubah menjadi masalah lingkungan.
Teknologi Tepat untuk Plastik Bernilai Rendah
PSLH UGN menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah plastik tidak cukup hanya melalui slogan menjaga kebersihan.
Material yang masih memiliki nilai ekonomi harus tetap dipertahankan dalam jalur daur ulang melalui pemilahan, pembersihan, dan pemasaran.
Sementara itu, plastik bernilai rendah seperti kresek memerlukan pendekatan berbeda, salah satunya melalui kajian teknologi pirolisis, yakni proses penguraian termal plastik dalam kondisi oksigen sangat terbatas untuk menghasilkan produk cair, gas, dan residu padat.
Namun teknologi tersebut tidak boleh diterapkan secara sembarangan.
Prinsip utamanya adalah memilah sampah terlebih dahulu, mempertahankan material yang masih layak didaur ulang, dan hanya mengolah fraksi plastik tertentu yang memang sudah tidak memiliki pasar.
Lebih dari 20 Tukang Botot Belum Memiliki Kelompok
Hasil kunjungan juga mencatat terdapat lebih dari 20 tukang botot yang bekerja di kawasan TPA Batu Bola.
Mereka berasal dari Dusun Batu Bola, Desa Simatohir dan Desa Siparau, dengan jumlah terbanyak berasal dari Batu Bola.
Meski demikian, hingga kini mereka belum memiliki kelompok atau organisasi yang menaungi aktivitasnya.
Padahal keberadaan kelompok dinilai penting untuk mempermudah pendataan, pelatihan keselamatan kerja, penyediaan alat pelindung diri, penguatan posisi tawar terhadap pengepul, hingga pengembangan teknologi pengolahan sampah.
Menurut PSLH UGN, tukang botot tidak semestinya dipandang sekadar sebagai pencari barang bekas, melainkan pekerja lingkungan informal yang setiap hari mengurangi volume residu dengan mengembalikan material ke dalam rantai ekonomi.
Empat Langkah Mendesak Menyelamatkan Batu Bola
PSLH UGN merekomendasikan empat langkah utama yang perlu dilakukan secara bersamaan oleh Pemerintah Kota Padangsidimpuan bersama masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Pertama, menghentikan pembakaran terbuka melalui pengawasan yang konsisten, penegakan aturan, dan respons cepat terhadap setiap titik api.
Kedua, membentuk sekaligus melindungi kelompok tukang botot melalui pendataan, pelatihan keselamatan kerja, penyediaan alat pelindung diri, dan fasilitas pemilahan yang lebih baik.
Ketiga, memperkuat rantai ekonomi material yang telah berjalan agar botol plastik, logam, karton, dan material bernilai lainnya semakin mudah dipasarkan dengan harga yang lebih menguntungkan.
Keempat, mengembangkan solusi teknologi maupun pasar bagi plastik bernilai rendah melalui inovasi daur ulang, pengembangan produk baru, maupun teknologi termokimia yang sesuai.
Batu Bola Membutuhkan Solusi Jangka Panjang
PSLH UGN menilai persoalan Batu Bola tidak cukup diselesaikan hanya dengan memadamkan api.
Diperlukan kebijakan yang mampu mencegah pembakaran, melindungi tukang botot sebagai pelaku ekonomi sirkular, serta menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, mahasiswa, dan para tukang botot menjadi kunci agar TPA Batu Bola tidak lagi menjadi sumber pencemaran, melainkan pusat pengelolaan sumber daya yang lebih aman, produktif, dan ramah lingkungan.
"Tukang botot telah membuktikan bahwa sebagian sampah masih dapat menjadi sumber penghidupan. Kini saatnya semua pihak memastikan pekerjaan mereka berlangsung lebih aman, lebih terorganisasi, dan lebih bernilai, sehingga Batu Bola tidak lagi terus membara dan mencemari udara Kota Padangsidimpuan," tutup PSLH UGN.
(BAS)

Comments