LPHD Sugi Natama Hidupkan Tradisi "Marsialap Ari", Kearifan Lokal yang Relevan di Era Modern
TAPANULI SELATAN
suluhsumatera : Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis budaya gotong royong, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sugi Natama, Desa Sugi, Kabupaten Tapanuli Selatan, kembali menghidupkan tradisi leluhur "marsialap ari" sebagai pola utama dalam pengelolaan Perhutanan Sosial skema Hutan Desa (HD) dengan pendampingan Green Justice Indonesia (GJI).
Tradisi tersebut diterapkan dalam pengembangan budidaya kopi robusta dan arabika yang dikelola para anggota LPHD.
Marsialap Ari Jadi Sistem Pengelolaan Hutan Desa
Ketua LPHD Sugi Natama, Rinuan Sahati, mengatakan seluruh anggota menerapkan sistem marsialap ari dalam mengelola lahan. Setiap anggota bergotong royong mengerjakan lahan milik anggota lain secara bergiliran tanpa adanya sistem upah.
"Saat ini kami mengelola Perhutanan Sosial dengan skema Hutan Desa melalui budidaya kopi robusta dan arabika. Pola pengelolaan yang kami terapkan adalah marsialap ari," ujar Rinuan.
Tradisi Leluhur yang Sarat Nilai Kebersamaan
Marsialap ari merupakan kearifan lokal masyarakat Tapanuli Selatan berupa tradisi gotong royong yang diwariskan turun-temurun.
Dalam praktiknya, masyarakat saling membantu menggarap lahan pertanian tanpa imbalan materi, melainkan atas dasar tanggung jawab moral untuk saling membalas bantuan secara bergiliran.
Menurut Rinuan, tradisi tersebut kini kembali dibudayakan melalui kegiatan rutin setiap hari Kamis.
"Kami ingin menghidupkan kembali tradisi leluhur yang mulai memudar. Setiap hari Kamis seluruh anggota bergotong royong mengelola lahan salah satu anggota, lalu bergantian ke lahan anggota lainnya pada pekan berikutnya," jelasnya.
Tanpa Upah, Mengutamakan Kekeluargaan
Rinuan menegaskan seluruh kegiatan dilakukan tanpa sistem upah karena dilandasi semangat kebersamaan dan kekeluargaan.
"Kami bekerja bersama tanpa pamrih. Semua dilakukan atas dasar rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan semangat saling menolong," katanya.
Mempererat Persaudaraan dan Menjaga Harmoni Desa
Selain meningkatkan produktivitas pertanian, marsialap ari juga menjadi sarana memperkuat hubungan sosial antaranggota.
Intensitas kebersamaan dalam bekerja membuat masyarakat semakin saling memahami, menjaga persaudaraan, serta memelihara keharmonisan di lingkungan desa.
"Dengan marsialap ari, kami semakin saling mengenal, saling memahami, dan rasa persaudaraan menjadi semakin kuat," tambah Rinuan.
Benteng Menghadapi Individualisme di Era Modern
Koordinator Advokasi Green Justice Indonesia, Hendra Hasibuan, menilai marsialap ari bukan sekadar tradisi, tetapi juga solusi sosial yang relevan menghadapi tantangan zaman modern.
"Di zaman sekarang, marsialap ari dapat menjadi benteng untuk menahan sifat egois, pragmatis, dan materialistik yang kerap muncul di era modern," ujarnya.
Tidak Hanya di Pertanian, Juga untuk Kegiatan Sosial
Hendra yang juga Ketua Sarekat Hijau Indonesia Sumut dan Koordinator Jaringan Advokasi Masyarakat Marjinal menjelaskan, nilai marsialap ari dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan sosial, seperti kerja bakti memperbaiki rumah warga, membantu masyarakat yang membutuhkan, hingga memperkuat solidaritas desa.
Menurutnya, meski sebagian masyarakat mulai menggunakan mesin pertanian atau sistem buruh upahan, semangat gotong royong tetap harus dipertahankan agar kehidupan masyarakat desa tetap harmonis.
Diharapkan Menjadi Inspirasi bagi Desa Lain
Hendra berharap tradisi marsialap ari terus diwariskan kepada generasi muda karena mengandung nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kepedulian sosial yang tinggi.
Ia juga berharap budaya tersebut dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam pengelolaan lahan pertanian, perkebunan, maupun berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, sehingga kearifan lokal tetap hidup dan mampu menjawab tantangan kehidupan di era modern.
(BAS)

Comments