Petani Kelapa Sawit, Pengeluaran Selangit, Pendapatan Dijepit
MENDENGAR sebutan petani kelapa sawit, membuat sebagian orang membayangkan juragan kaya dan ssangat sejahtera.
Dibalik itu, banyak yang tidak memahami, petani kelapa sawit khususnya swadaya hingga kini belum menikmati kesejahteraan dari komoditas yang ditanam.
Masalahnya kompleks, mulai dari besarnya biaya yang harus dikeluarkan setiap tahun untuk perawatan tanaman, mahalnya transportasi, hingga minimnya perhatian pemerintah. Kondisi itu masih diperparah dengan harga yang tidak mencerminkan rasa keadilan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sejumlah petani kelapa sawit swadaya di Kab. Labusel, dalam setahun terakhir rata-rata biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan 1 hektare kebun berkisar Rp35 jutaan.
Biaya tersebut meliputi pupuk dengan kadar 3 hingga 3,5 Kg per pokok per tahun, terdiri dari Nitrea berkisar Rp6 juta (harga saat ini Rp600 ribuan per karung), MOP atau KCL Rp4 juta (Rp400 ribuan per karung), TSP Rp7 juta (Rp700 ribuan per karung), dolomit Rp200 ribu (Rp40 ribuan per karung), dan boron atau boraks Rp700 ribu (Rp700 ribu per karung).
Berdasarkan estimasi tersebut, hanya untuk pembelian pupuk saja petani harus merogoh kocek berkisar Rp18 jutaan untuk 1 Ha lahan per tahun.
Pengeluaran tersebut masih ditambah dengan ongkos panen berkisar Rp7,2 juta per tahun (Rp200/Kg), Rp500 ribu untuk jasa pemupukan (Rp10 ribu per karung), Rp450 ribu biaya pruning, dan berkisar Rp1 juta biaya pestisida, plus biaya angkut hasil panen berkisar Rp9 jutaan per tahun (Rp250/Kg). Sehingga jika ditotal pengeluaran berkisar Rp17 jutaan per Ha per tahun.
Lalu Berapa Produksinya?
Berdasarkan pengalaman sejumlah petani swadaya, setiap hektare kebun kelapa sawit hanya mampu menghasilkan lebih kurang 1 ton TBS untuk sekali panen, atau 2 ton setiap bulan.
Tidak maksimalnya hasil produksi turut dipengaruhi kondisi tanah, riwayat benih yang ditanam, dan cuaca yang tidak menentu.
Berdasarkan produksi tersebut, jika harga TBS kelapa sawit diasumsikan rata-rata Rp.2.800 per Kg, maka penghasilan dari 1 Ha lahan berkisar Rp60 jutaan per tahun, dengan hasil bersih rata-rata Rp25 jutaan per tahun.
Parahnya, karena mahalnya biaya pemupukan serta pemeliharaan kebun dan tanaman, sebagian besar petani biasanya mengurangi dosis pupuk hingga 50 persen dari yang semestinya.
Kondisi itu pun berdampak terhadap produksi, sehingga setiap hektare kebun hanya mampu menghasilkan rata-rata 500 Kg untuk sekali panen atau berkisar 1 ton per bulan. Alhasil, pendapatan bersih yang dihasilkan dalam setahun ikut merosot.
Penghasilan Dijepit
Ditengah kompleksnya permasalahan yang dialami, sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kab. Labusel justru "menjepit" penghasilan petani sawit swadaya dengan membandrol TBS dibawah harga ketetapan pemerintah.
Berdasarkan data yang didapat wartawan, Kamis (3/9/2026), Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan telah menetapkan harga TBS pekebun mitra swadaya untuk periode 2 hingga 8 September 2026, pada kisaran harga Rp.3624,20 hingga Rp.3.762,93/Kg.
Sementara itu, harga TBS yang diterapkan sejumlah PKS jauh dari ketetapan tersebut, yakni berkisar Rp2.860 hingga Rp.3.030 per Kg. Harga yang jauh lebih rendah itu membuat petani dirugikan.
Tidak hanya terbebani harga, petani juga turut menanggung pemotongan penyusutan antara 2 persen hingga 4 persen setiap kali menjual TBS ke PKS.
(*)
Comments