Refleksi 60 Tahun KAHMI: Saatnya Kembali Menjadi Gerakan Intelektual
PADANGSIDIMPUAN
suluhsumatera : Memasuki usia ke-60 tahun, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dihadapkan pada momentum penting untuk melakukan refleksi mendalam terhadap arah perjalanan organisasi.
Sebagai rumah besar alumni HMI, kualitas KAHMI dalam jangka panjang tidak dapat dipisahkan dari kualitas proses kaderisasi HMI. Bila hulu mengalami persoalan intelektual, maka hilir pun cepat atau lambat akan merasakan dampaknya.
HMI Masih Besar, Tetapi Apakah Masih Berpengaruh?
Pandangan tersebut disampaikan oleh Parulian Nasution, alumnus Senior Course Adinegoro XV Badko HMI Sumbagut 1986.
Ia mengaku melihat HMI dari berbagai sudut pandang, mulai dari kader, aktivis, pengurus hingga alumni.
Menurutnya, HMI masih memiliki struktur organisasi yang kuat, jaringan yang luas, dan sejarah yang besar.
Namun, kebesaran itu dinilai tidak lagi sepenuhnya berbanding lurus dengan kekuatan intelektual yang dahulu menjadi ciri utama organisasi.
"HMI masih besar secara organisasi, tetapi apakah masih besar dalam melahirkan gagasan? Pertanyaan itulah yang kini semakin sulit dijawab," ujarnya.
Politik Internal Dinilai Mendominasi
Parulian menilai berbagai forum organisasi, mulai dari Rapat Anggota Komisariat (RAK), konferensi cabang, musyawarah daerah hingga kongres, kini lebih banyak diwarnai persaingan memperebutkan struktur kepemimpinan.
Akibatnya, energi organisasi lebih banyak terserap pada politik internal dibandingkan pengembangan pemikiran.
Fenomena tersebut, menurutnya, merupakan bentuk goal displacement, yakni ketika tujuan utama organisasi perlahan tergeser oleh kepentingan mempertahankan struktur organisasi itu sendiri.
"HMI akhirnya terlalu sibuk mengurus HMI, bukan lagi sibuk membicarakan persoalan bangsa," katanya.
Tradisi Intelektual Dinilai Mengalami Stagnasi
Parulian mengingatkan bahwa daya tarik HMI pada masa lalu justru terletak pada keberaniannya membahas isu-isu besar seperti Islam, demokrasi, pembangunan, ilmu pengetahuan, ekonomi hingga masa depan Indonesia.
Nama Nurcholish Madjid (Cak Nur), menurutnya, menjadi simbol keberhasilan HMI melahirkan kader yang mampu menghasilkan gagasan besar hingga melampaui batas organisasi.
Meski banyak alumni HMI kini menjadi akademisi, birokrat, politisi, ulama maupun profesional, ia menilai HMI sebagai institusi belum lagi menunjukkan gelombang pembaruan pemikiran sebesar generasi sebelumnya.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk stagnasi epistemik, ketika organisasi tetap hidup, kaderisasi terus berjalan, namun kemampuan menghasilkan paradigma baru semakin melemah.
Tantangan Zaman Belum Dijawab
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), transformasi digital, krisis iklim, perubahan geopolitik hingga ketimpangan ekonomi,
Parulian menilai diskursus internal HMI masih sering berkutat pada persoalan yang sempit.
Ia juga menyayangkan forum-forum konstitusional organisasi yang lebih sering dikenal publik karena konflik dibandingkan gagasan.
Padahal, menurutnya, Kongres HMI seharusnya menjadi arena tertinggi lahirnya pemikiran strategis untuk bangsa.
"Pertanyaan yang paling penting bukan siapa yang menjadi Ketua Umum PB HMI, tetapi pemikiran besar apa yang akan lahir dari Kongres HMI," tegasnya.
Krisis HMI Berimbas kepada KAHMI
Menurut Parulian, persoalan intelektual di HMI secara alamiah akan berdampak terhadap KAHMI sebagai wadah alumni.
Memasuki usia enam dekade, KAHMI dinilai perlu melakukan evaluasi lebih mendalam daripada sekadar mengenang sejarah panjang organisasi.
Dengan sumber daya alumni yang tersebar di pemerintahan, perguruan tinggi, dunia usaha, parlemen, media hingga berbagai lembaga strategis, KAHMI memiliki modal sosial, modal intelektual, dan modal politik yang sangat besar.
Namun, modal tersebut tidak otomatis menghasilkan pengaruh apabila tidak diarahkan menjadi kekuatan kolektif.
"KAHMI tidak boleh sekadar menjadi tempat silaturahmi alumni atau ruang konsolidasi kepentingan. KAHMI harus menjadi reservoir moral dan intelektual bangsa," ujarnya.
Jangan Hanya Bangga Masa Lalu
Parulian juga mengingatkan bahwa organisasi besar sering kali terjebak dalam romantisme sejarah.
Kebanggaan terhadap tokoh-tokoh besar seperti Lafran Pane, Deliar Noer, Dahlan Ranuwiharjo hingga Nurcholish Madjid memang penting, namun sejarah seharusnya menjadi modal untuk melahirkan generasi baru, bukan sekadar dikenang.
Ia juga menyoroti fenomena semakin banyak pihak yang mengaku sebagai alumni HMI tanpa melalui proses kaderisasi yang jelas.
Menurutnya, identitas alumni harus dijaga agar tetap memiliki integritas dan kredibilitas.
Momentum Melakukan Intellectual Reset
Menjelang Kongres HMI XXXIII di Lampung dan peringatan 60 tahun KAHMI, Parulian mengajak seluruh keluarga besar HMI dan KAHMI melakukan intellectual reset.
Ia berharap budaya membaca, menulis, riset, diskusi, dan perdebatan ilmiah kembali menjadi prestise utama kader.
Komisariat didorong kembali menjadi laboratorium pemikiran, cabang menjadi pusat diskursus daerah, Badko menjadi penghubung gagasan regional, sedangkan PB HMI diharapkan kembali menjadi pusat produksi pemikiran mahasiswa Islam Indonesia.
Di sisi lain, KAHMI diharapkan membangun pusat studi, mendukung riset kader, menerbitkan jurnal dan buku, serta mempertemukan ilmuwan senior dengan kader muda.
Penutup: Kembali kepada Ilmu dan Gagasan
Menutup refleksinya, Parulian berharap HMI dan KAHMI mampu kembali menjadi gerakan intelektual yang memberi arah bagi bangsa.
Ia menitipkan satu pertanyaan kepada seluruh kader menjelang Kongres HMI XXXIII:
"Setelah spanduk kongres diturunkan, palu sidang diketukkan, dan Ketua Umum baru terpilih, pemikiran besar apa yang akan dibawa pulang untuk Indonesia?"
Menurutnya, apabila sebuah kongres hanya menghasilkan ketua tanpa melahirkan gagasan besar, maka esensi forum intelektual telah kehilangan maknanya.
"HMI dahulu diperhitungkan bukan karena gaduhnya, melainkan karena gagasannya. Jika ingin kembali diperhitungkan, jalan pulangnya adalah kembali kepada ilmu, kembali kepada gagasan, dan kembali kepada keberanian berpikir."
(BAS)
Comments