--> Ekonomi Warga Merosot Dampak Proyek di Sidomulyo Labusel | suluh sumatera

Ekonomi Warga Merosot Dampak Proyek di Sidomulyo Labusel

Bagikan:

Ekonomi Warga Merosot Dampak Proyek di Sidomulyo Labusel

RANTAUPRAPAT

suluhsumatera : Warga Dusun Sidomulyo, Desa Tanjung Mulia, Kec. Kampungrakyat, Kab. Labuhanbatu Selatan (Labusel) mengeluhkan kondisi jalan utama di dusun tersebut yang lumpuh dan rusak parah, akibat pengerjaan proyek rehabilitasi dan rekonstruksi jalan.


Tokoh masyarakat setempat Jismer Lumban Batu, Selasa (22/12/2020), kepada wartawan mengatakan, kondisi jalan di pemukiman mereka saat ini licin dan berlumpur, pasca diterpa hujan selama akhir tahun yang mengakibatkan sejumlah kendaraan tidak dapat melintas.


Kerusakan jalan tersebut ditenggarai pekerjaan penimbunan jalan menggunakan material tanah liat yang dinilai tidak efektif.


Jismer juga menyesalkan tidak adanya plang proyek dan informasi yang diterima terkait pekerjaan tersebut, sehingga menambah keresahan warga.


Pasalnya, pekerjaan proyek itu malah semakin memperparah kerusakan jalan yang menjadi sasaran langganan banjir tahunan itu.


"Bisa saya katakan ini proyek siluman, karena tidak ada plang proyeknya. Berapa meter panjangnya, berapa lebarnya, dan tingginya kita tidak tau, karena tidak ada sama sekali informasi kita terima," kata Jismer.


Selain itu, kerusakan jalan ini juga berdampak terhadap ekonomi warga setempat yang mayoritas mata pencahariannya sebagi petani kelapa sawit.


Bagaimana tidak, para petani harus mengeluarkan ongkos ekstra angkutan untuk membawa buah keluar dari lokasi kebun warga di Sidomulyo melintasi jalan rusak menggunakan jasa perorangan.


Belum lagi risiko buah rusak akibat tumpukan antrean angkutan hingga berhari-hari lamanya yang berdampak pada harga buah dan merugikan petani.


"Sampai saat ini kita tidak tahu harus melaporkan kepada siapa. Bukan kita tidak suka ada proyek di sini, tapi kan tidak seeperti ini. Jalan ini dipakai warga untuk membawa buah sawit. Kalau seperti ini sangat jelas sangat berdampak pada ekonomi warga," ucap Jismer.


Ia juga meminta agar bahan material tidak lagi menggunakan tanah kuning (liat), melainkan menggunakan fitrun tanah dengan tekstur yang berbatu, sehingga tidak fatal saat diterpa hujan.


"Kalau pakai fitrun tanah itu kan masih bisa dilewati warga kalau musim hujan seperti ini," sebut Jismer.


Dia berharap, agar pihak terkait segera mengatasi persoalan tersebut, sehingga warga tidak lagi menanggung beban ini berlarut-larut.


"Harapan saya, agar masalah ini segera diselesaikan dan pemborongnya bertanggung jawab. Jangan masyarakat disengsarakan," pungkasnya.


Sejauh ini, melalui swadaya masyarakat setempat, jalan yang licin, berlumpur, dan berlubang tersebut sudah ditimbun menggunakan bebatuan, namun dengan volume tanah yang lebih banyak hal itu tidak berdampak lebih dan jalanan pun masih belum dapat dilintasi. (zain)

KOMENTAR