3 Tradisi Ini Sudah Hilang Saat Ramadan di Labusel
KOTAPINANG
suluhsumatera : Beberapa dekade silam, ada banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat Kab. Labusel, termasuk anak-anak selama bulan suci Ramadan, selain beribadah kepada Allah SWT.
Namun seiring berkembangnya zaman, kegiatan-kegiatan itu pun ditinggalkan, apa saja?
Asmara Subuh
Dulu, usai sahur dan melaksanakan Salat Subuh, ruas Jalan Lintas Sumatera (Jainsum), khususnya di Kec. Kotapinang, akan dipadati warga, khususnya pemuda untuk berjalan-jalan santai atau yang sering disebut asmara Subuh.
Ada beberapa rute yang biasanya ditempuh ratusan warga dengan berjalan kaki, yakni menuju Jembatan Sungai Barumun hingga Danau Pagaran Padang, menuju Jembatan Sungai Merbau hingga Blok Songo, atau menuju Simaninggir.
Kebetulan, saat itu arus lalu lintas memang terbilang sepi, sehingga warga bebas berjalan kaki, bahkan hingga ke tengah badan jalan.
Bermain Meriam Bambu
Bagi remaja, khususnya laki-laki, momen indah di bulan suci Ramadan adalah bermain meriam bambu.
Sejak awal Ramadan, sekelompok anak-anak akan membuat meriam dari bambu yang banyak terdapat di bantaran Sungai Barumun.
Pada malam hari, biasanya usai Salat Tarawih, biasanya anak-anak akan berkumpul sambil membawa meriamnya masing-masing dan memilih tempat-tempat lapang untuk bermain.
Cara memainkannya pun nyaris sama dengan penggunaan meriam sungguhan, yakni menyulut lubang yang ada di bagian pangkal meriam dengan api, sehingga menimbulkan dentuman keras.
Dentuman tersebut akan terdengar bersahut-sahutan, karena kelompok anak-anak di kampung lainnya juga melakukan permainan yang sama.
Bermain Lilin dan Lampu Obor di Malam 27 Ramadan
Demikian halnya dengan anak-anak. Momen seru saat bulan suci tentunya saat bermain lilin dan kembang api, pada malam ke 27 Ramadan.
Menjelang 27 Ramadan, biasanya banyak pedagang akan menjual lilin berbagai ukuran. Ada juga kembang api bakar pendek dan panjang.
Usai berbuka puasa, biasanya anak-anak akan menyalakan lilin dan menaruhnya di dahan-dahan pohon di sekitar rumah, sehingga suasana menjadi terang benderang.
Ada pula sekelompok anak-anak berjalan-jalan keiling kampung sambil membawa lilin yang ditaruh di tempurung kelapa.
Selain menyalakan lilin, beberapa warga biasanya membuat lampu obor berbahan bambu di pekarangan rumah.
Lampu-lampu tersebut akan dinyalakan sepanjang malam hingga minyak di dalam obor habis dan mati dengan sendirinya.
Seiring berkembangnya zaman, berbagai tradisi tersebut pun kini ditinggalkan, karena berbagai faktor.
(*/sya)


Comments