Krisis Ekologis Batang Toru: Sungai Rusak, Budaya Pun Terkikis
TAPANULI SELATAN
suluhsumatera : Di sejumlah desa di lanskap Batang Toru, Sumatera Utara, satu tradisi yang dulu hidup perlahan mulai menghilang.
Marpangir, ritual mandi dengan ramuan alami seperti daun pandan, sereh, jeruk purut, dan bunga-bungaan, kini semakin jarang dilakukan.
Marpangir: Ritual Penyucian yang Sarat Makna
Dahulu, marpangir menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
Tradisi ini bukan sekadar aktivitas membersihkan tubuh, melainkan juga bentuk penyucian batin.
Air dalam praktek ini memiliki makna mendalam sebagai medium spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam serta dirinya sendiri.
Kejernihan air menjadi syarat utama, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara simbolik.
Perubahan Sungai: Dari Jernih Menjadi Keruh
Namun kini, kondisi Sungai Batang Toru menunjukkan perubahan signifikan.
Berdasarkan pengamatan masyarakat, air di beberapa titik aliran sungai tampak keruh, berwarna kecoklatan, dan membawa sedimen dalam jumlah besar.
Warga mengaitkan kondisi ini dengan aktivitas di wilayah hulu, seperti pembukaan lahan dan pertambangan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pada kebutuhan sehari-hari, tetapi juga pada praktik budaya yang bergantung pada kualitas air.
Ketika Tradisi Kehilangan Ruang Hidup
Perubahan kualitas air membuat marpangir kehilangan konteks ekologisnya. Tradisi yang membutuhkan air bersih kini sulit dilakukan secara layak.
Sejumlah warga terpaksa mencari sumber air alternatif, bahkan ada yang mulai meninggalkan praktik tersebut.
Kondisi ini mencerminkan terputusnya relasi antara budaya dan lingkungan yang selama ini saling menopang.
Ekologi Politik: Lingkungan dalam Relasi Kuasa
Fenomena ini dapat dibaca melalui perspektif ekologi politik, di mana lingkungan menjadi arena relasi kuasa.
Kebijakan pemanfaatan sumber daya, termasuk pemberian konsesi, berdampak langsung pada distribusi manfaat dan beban ekologis.
Dalam konteks Batang Toru, masyarakat lokal berada pada posisi yang menanggung dampak, sementara kontrol atas sumber daya berada di luar mereka.
Paradoks Kekayaan Alam: Gejala Resource Curse
Kondisi ini juga mencerminkan konsep resource curse yang diperkenalkan oleh ekonom Richard Auty.
Wilayah dengan kekayaan sumber daya alam justru sering menghadapi degradasi lingkungan dan ketimpangan sosial.
Batang Toru menjadi contoh nyata, di mana kekayaan alam tidak berbanding lurus dengan kualitas lingkungan hidup masyarakat di sekitarnya.
Ekologi Budaya: Tradisi yang Terkikis Lingkungan
Dari sudut pandang ekologi budaya, praktik seperti marpangir lahir dari kondisi ekologis tertentu. Ketika lingkungan berubah, praktik budaya pun ikut tergerus.
Penurunan kualitas air tidak hanya berdampak pada kesehatan lingkungan, tetapi juga mengancam keberlanjutan tradisi dan pengetahuan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Suara Aktivis: Ini Bukan Sekadar Krisis Lingkungan
Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Utara, Hendra Hasibuan, menegaskan bahwa kondisi Sungai Batang Toru tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa.
“Kondisi Sungai Batang Toru yang kini kumuh dan berwarna cokelat akibat aktivitas konsesi tambang adalah bentuk nyata krisis ekologis yang tidak bisa lagi ditoleransi. Ini bukan hanya soal rusaknya lingkungan, tetapi juga hilangnya ruang hidup dan ruang budaya masyarakat. Tradisi seperti marpangir tidak lagi bisa dijalankan sebagaimana mestinya karena air yang menjadi medium penyucian telah tercemar,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa ketika sungai rusak, yang hilang bukan hanya sumber air, tetapi juga nilai spiritual, identitas budaya, dan pengetahuan lokal masyarakat.
Keadilan Ekologis dan Tuntutan Pemulihan
Situasi ini, menurut Hendra memunculkan pertanyaan mendasar tentang keadilan lingkungan: sejauh mana masyarakat lokal dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada kehidupan mereka?
Hendra menegaskan perlunya langkah tegas untuk memulihkan ekosistem Batang Toru dan menghentikan praktik-praktik yang merusak.
“Ini adalah bentuk ketidakadilan ekologis yang harus segera dihentikan. Kami mendesak pemulihan menyeluruh terhadap ekosistem Batang Toru serta penghentian aktivitas yang merusak, agar masyarakat dapat kembali hidup selaras dengan alamnya,” tegasnya.
Lebih dari Sekadar Sungai yang Keruh
Hendra menilai bahwa krisis yang terjadi di Batang Toru tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga krisis sosial dan kultural. Hilangnya akses terhadap air bersih beriringan dengan hilangnya ruang untuk menjalankan tradisi.
"Marpangir, dalam konteks ini, bukan sekadar budaya, melainkan bagian dari sistem kehidupan masyarakat. Tanpa air yang bersih, tradisi tersebut kehilangan makna dan ruang hidupnya", ungkapnya.
Batang Toru hari ini, sebut Hendra, menjadi cermin bagaimana kerusakan ekologis dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan.
"Jika tidak ada langkah korektif yang serius, yang hilang bukan hanya kejernihan sungai, tetapi juga identitas dan cara hidup masyarakat yang telah lama terbangun", pungkasnya.
(Baginda Ali Siregar)


Comments