Parulian Nasution: Antara Ka’bah dan Air Zamzam, Simbol Keikhlasan Serta Keteguhan Seorang Ibu
PADANGSIDIMPUAN
suluhsumatera : H. Parulian Nasution mengatakan, rangkaian kalimat tentang Ka’bah dan air zamzam ini lahir dari keheningan malam saat dirinya melaksanakan tahajud.
Dalam suasana sunyi itu, ia merenungi makna mendalam di balik air zamzam yang selama ini dikenal umat Islam sebagai oleh-oleh khas dari Tanah Suci.
“Ka'bah dan air zamzam bukan sekadar pelepas dahaga, juga bukan sekadar oleh-oleh pulang dari ibadah haji. Lebih dari itu, zamzam adalah kenangan tentang seorang ibu dan tetesan air mata dalam langkah pasti yang tak kenal menyerah dan putus asa,” ungkapnya.
Zamzam, Jejak Cinta dan Keteguhan Hajar
Menurut Parulian, zamzam bukan hanya air biasa, melainkan kisah cinta dan perjuangan seorang ibu bernama Hajar yang diabadikan Allah SWT sepanjang zaman.
Ia menggambarkan bagaimana ribuan jamaah haji dan umrah setiap hari mengantre mengisi botol maupun galon air zamzam sebelum keluar dari Masjidil Haram.
Namun sesungguhnya, kata dia, yang mereka minum bukan sekadar air, melainkan sejarah penuh keimanan.
“Zamzam muncul bukan dari ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi dari keputusasaan yang dijawab dengan keimanan,” ujarnya.
Parulian menceritakan kisah Hajar yang ditinggalkan Nabi Ibrahim AS di tengah padang tandus bersama bayi kecilnya, Ismail.
Dalam kondisi nyaris tanpa harapan, Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari air.
“Ia tak tahu apakah air akan ditemukan, tapi yang ia tahu, ia harus bergerak dan berbuat sesuatu,” katanya.
Saat Ikhtiar Berakhir, Pertolongan Allah Datang
Menurut Parulian, mukjizat zamzam hadir ketika seluruh usaha manusia mencapai batas akhirnya. Saat Hajar berhenti karena seluruh tenaganya habis, justru di situlah pertolongan Allah SWT datang.
"Ketika Hajar berhenti, ketika semua usahanya habis, tiba-tiba air itu muncul tepat di bawah kaki bayi mungilnya. Allah berkata: ketika usahamu sudah mentok, di situlah Aku turun tangan,” paparnya.
Ia menilai air zamzam menjadi pengingat abadi bahwa mukjizat tidak selalu datang saat manusia sedang berlari, tetapi ketika seseorang telah berikhtiar sepenuhnya lalu berserah diri dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT.
Ka’bah dan Zamzam Tak Pernah Terpisahkan
Parulian juga menegaskan bahwa air zamzam bukan hanya penghapus dahaga, tetapi simbol spiritualitas umat Islam. Sebab, di dekat Ka’bah arah kiblat seluruh Muslim ketika salat, di situlah zamzam berada.
"Allah SWT ingin mengingatkan bahwa spiritualitas kita tidak pernah bisa lepas dari perjuangan seorang ibu. Bahwa di balik arah sujud kita, ada sejarah air mata dan langkah kaki seorang perempuan tangguh,” ungkapnya.
Ia menambahkan, air zamzam terus mengalir tanpa pernah habis meski setiap hari ditimba, disedot, dan dibawa ke berbagai penjuru dunia.
“Allah SWT menegaskan bahwa keberkahan itu tak mengenal logika hitung manusia. Ia mengalir bukan karena volume, tapi karena kehendak Ilahi,” ucapnya.
Air yang Menyatukan Dunia
Parulian menyebut, zamzam juga menjadi penghubung batin antara Tanah Suci dengan kampung halaman umat Islam di berbagai belahan dunia.
“Ia menjadi penghubung tak kasat mata antara tanah suci dengan kampung halaman. Antara yang menunaikan ibadah haji dan yang belum pergi haji. Bahkan bagi yang hanya bisa mencium aroma zamzam dari gelas kecil di rumah, tetap terasa dekat dengan Ka'bah,” jelasnya.
Menurutnya, air zamzam mengajarkan bahwa sesuatu yang bernilai tidak selalu hadir dalam kemewahan.
“Tak ada aroma wangi khusus, tak ada kemasan mewah, tapi semua orang tahu inilah air dari langit, lewat kaki bayi yang haus dan langkah seorang ibu yang tak berhenti,” katanya.
Simbol Keikhlasan dan Harapan yang Tak Pernah Padam
Lebih lanjut, Parulian mengatakan bahwa dibandingkan oleh-oleh lainnya dari Mekkah seperti tasbih, kurma, atau sajadah, air zamzam adalah yang paling cepat dibagikan kepada orang lain.
“Hakikatnya, zamzam bukan milik pribadi, tapi titipan dari sejarah untuk kita semua,” ujarnya.
Ia menilai zamzam menyatukan semua kalangan tanpa memandang status sosial.
“Air zamzam menyatukan yang kaya dan miskin, yang sehat dan sakit, yang tua dan muda. Di depan krannya, semua orang sama. Tidak ada barisan khusus, tidak ada petugas yang pilih-pilih. Air zamzam ini, dari awal sejarahnya memang dimaksudkan untuk semua,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Parulian menegaskan bahwa zamzam adalah pelajaran hidup tentang keikhlasan, keyakinan, dan harapan yang tak pernah padam.
“Maka saat kita meneguknya, jangan hanya berdoa agar diberi kesehatan atau rezeki. Tapi berdoalah juga agar diberi hati seperti Hajar yang tak diam dalam keputusasaan,” pungkasnya.
“Yang tak bertanya kapan pertolongan datang, tapi terus melangkah hingga Allah berkenan mengalirkan zamzam di bawah kaki mungil seorang bayi yang kelak menjadi simbol kesabaran dan kepasrahan,” tandasnya.
(BAS)

Comments