Pemenang jadi Raja, Pecundang jadi Perampok
REALITA kehidupan sering kali tidak hitam-putih. Keadilan dan moralitas bisa dibentuk oleh siapa yang berhasil memegang kendali atas suatu sistem.
Dalam dunia yang sering kali keras, aturan dan narasi moral ditentukan oleh mereka yang memegang kekuasaan.
Siapa yang menang akan menguasai aturan dan sejarah, sementara yang kalah akan dicap sebagai pengacau, bahkan penjahat.
Pihak yang memenangkan suatu konflik (perang, persaingan politik, atau perebutan kekuasaan) memiliki wewenang penuh untuk menulis sejarah. Mereka akan memproklamirkan diri sebagai "raja" (pahlawan, pembawa kebenaran, dan penegak hukum) yang tindakannya selalu dianggap benar.
Gelar "Raja" atau "Pecundang" tidak selalu ditentukan oleh nilai moral absolut, melainkan oleh kekuatan. Pemenang mendapatkan legitimasi kekuasaan. Apa pun yang mereka lakukan saat berkuasa akan dianggap sah.
Sementara pecundang menjadi pihak yang kalah disingkirkan dan narasi tentang mereka dibelokkan. Perjuangan mereka sering kali dikriminalisasi atau dianggap sebagai bentuk pemberontakan liar, sehingga mereka dicap sebagai "perampok" (pelanggar hukum dan pengacau).
Orang yang kalah (pecundang) sering kali terpaksa melakukan cara-cara ekstrem yang melanggar hukum sekadar untuk bertahan hidup atau melawan penindasan pihak yang berkuasa. Namun, karena mereka kalah, tindakan tersebut tetap dinilai sebagai kejahatan kriminal.
Nah, begitulah sebagian realita kehidupan. (*)

Comments