--> Bikin Merinding, Jasad Pejuang Ini Terlihat Masih Utus Usai 30 Tahun Dikubur | suluh sumatera

Bikin Merinding, Jasad Pejuang Ini Terlihat Masih Utus Usai 30 Tahun Dikubur

Bagikan:

Pembongkaran makam tersebut dilakukan untuk memindahkan jasad Mbah Soewardi ke kompleks pemakaman umum


Suluhsumatera -
Masya Allah. Jasad pejuang kemerdekaan yang bernama Mbah Soewardi ini masih utuh meski sudah dikubur 30 tahun lamanya dalam tanah di Banyuwangi, Jatim.

Melansir Pojoksatu.id, selama hidupnya, Mbah Soewardi merupakan pejuang kemerdekaan. Bahkan saat melawan orang-orang komunis di tahun 1948 atau tahun 1965, Mbah Soewardi bisa dibilang paling bersemangat.

Selain pejuang, Mbah Soewardi juga aktif sebagai pengurus di Masjid Baitul Izzah di kampong itu.

Pembongkaran makam tersebut dilakukan untuk memindahkan jasad Mbah Soewardi ke kompleks pemakaman umum dari lokasi yang ada saat ini.

Kejadian jenazah utuh sesudah 30 tahun dikubur ini terjadi di Dusun Truko, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Salah seorang saksi mata yang menyaksikan ini adalah Suhaili, juru makam setempat sekaligus pembongkar makam Mbah Soewardi.

Suhaili mengatakan jasad dan kain kafan yang digunakan masih utuh. Tidak ada sobek sama sekali, hanya bertukar warna dari putih menjadi coklat disebabkan terkena tanah.

“Tidak ada bau bacin (busuk). Harum samar, seperti aroma kembang (bunga),” kata Suhaili, Senin (21/12/2020) kepada wartawan.

Tak hanya berbau wangi, saat pembongkaran makam Mbah Soewardi terjadilah fenomena di luar nalar manusia.

Jasad yang terkubur 30 tahun tersebut ternyata masih utuh beserta kain kafannya.

Baik itu rambut ataupun tulang, masih utuh dan tidak terputus dari persendian dan tempatnya.

Bahkan, daging dan kulitnya hanya mengering layaknya jasad yang sudah diawetkan ratusan tahun.

“Tulang-tulang masih menempel dan kulitnya mengering. Semuanya utuh dalam posisi tangan sedekap (posisi tangan orang salat),” kata Suhaili.

Sementara Dedi Utomo, salah satu cucu Mbah Soewardi mengaku sempat terkejut karena saat jenazah kakeknya hendak diangkat dari liang lahat, kondisi jasad masih utuh.

Kain kafan yang membalut jasad almarhum yang sudah terkubur selama puluhan tahun itu pun bahkan tidak ada yang rusak sama sekali. Hanya warna tanah saja yang menempel di kain kafannya.

“30 tahun sudah kakek saya meninggal. Saya sempet kaget saat dibongkar karena masih utuh jenazahnya dan tidak ada bau sama sekali,” kata Dedi seperti dilansir suaracom.

“Hanya saja warna kain kafan yang kecoklatan, tapi tidak ada yang sobek sama sekali,” kata Dedi lagi.

Dedi lalu menceritakan riwayat kakeknya semasa masih hidup.

Menurutnya, Mbah Soewardi dikenal sebagai sosok yang taat beribadah dan tegas dalam menegakkan nilai-nilai agama.

Di mata masyarakat, Mbah Soewardi dulu dikenal sangat baik.

“Saya dulu pernah dipukul karena lebih mementingkan main dari sholat dan beribadah. Kakek sangat keras kalau ada anak atau cucunya yang meninggalkan sholat,” ungkap Dedi.

Dedi melanjutkan, selain pengurus masjid kakeknya tersebut merupakan pejuang kemerdekaan. Bahkan saat melawan orang-orang komunis, Mbah Soewardi bisa dibilang paling bersemangat.

Jiwa nasionalis dan religius tersebut tumbuh karena menurut keluarga, almarhum masih ada garis keturunan dari Bupati Banyuwangi pertama, Mas Alit.

“Kami berharap semoga dengan kejadian ini kita semuanya lebih menebalkan keimanan dalam beribadah kepada Allah Tuhan yang Maha Esa,” kata Dedi Utomo.

KOMENTAR